yo

About Templatezy

Reach Your Dreams!

ig widget

Postingan Terbaru

Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sastra Indonesia. Show all posts

Sunday, March 3, 2019

Bab 8 : Apresiasi Puisi

March 03, 2019 0 Comments

Pengertian Apresiasi Puisi dan Unsur Intrinsik Ekstrinsik

Apresiasi Puisi adalah menilai, menikmati, menafsiran atas karya sastra (puisi). Untuk penjelasan masalah apresiasi puisi itu sangat banyak menurut para ahli. Intinya apresiasi itu ada unsur: Menyukai, menilai, menikmati, penghargaan, memahami. Adapun menurut para ahli sebagai berikut:Apresiasi adalah memahami, menikmati, dan menghargai atau menilai (Sumardjo, Jakob dan Saini. 1991:173) 
Apa yang dimaksud dengan puisi ? Puisi adalah salah satu jenis hasil karya sastra yang penyajiannya sangat mengutamakan kegayaan kata (E.Kosasih, 2001: 172)



Apa perbedaan antara unsur intrinsik dengan unsur ektrinsik? Unsur intrinsik adalah yang membentuk puisi dari dalam, yaitu tema, amanat, simbolis, musikalitas, diksi, dan gaya bahasa. Sedangkan unsur ektrinsik adalah unsur yang membentuk puisi dari luar, yaitu latar belakang penciptanya, status sosial, ekonomi, agama, budaya dsb.

A. Unsur intrinsik puisi, antara lain :
  1. Tema :Tema juga merupakan gagasan pokok yang diungkap dalam sebuah puisi. Tema puisi bisa berupa perjuangan, percintaan, lingkungan hidup dsb.
  2. Rasa atau perasaan: Rasa adalah ungkapan atau ekspresi penyair yang dituangkan ke dalam puisinya. Rasa atau perasaan yang ada pada puisi dapat berupa rasa indah, senang, bahagia, sedih.
  3. Nada adalah sikap atau keinginan penyair terhadap pembaca.
    Nada puisi bisa memberikan nasihat, menyindir, mengkritik, atau mengejek pembaca
  4. Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang pada pembaca.

B. Unsur ekstrinsik puisi terdiri dari: 
  1. Biografi penyair
  2. Zaman ketika puisi itu dibuat
  3. Kehebatan pembaca puisi
Jadi, untuk menilai keindahan suatu puisi dapat dilihat dari kepandaian pengarang memadukan unsur-unsur di atas.


C.    Rima atau persamaan bunyi dapat dibagi :
Berdasarkan bunyinya, rima dapat dibedakan :
  1. Rima sempurna, seluruh suku akhir bunyinya sama. Misalnya : hati –Jati , bulu – malu
  2. Rima asonansi, vokal dalam setiap suku kata sama. Misalnya: Kurang – bulan, benam – menang
  3. Aliterasi, persamaan pada bunyi konsonan pada awal kata. Misalnya Kuda kami kemari
  4. Disonansi, konsonan yang membentuk kata sama, sedangkan bunyi vokalnya bertentangan.Misalnya: Jinjing – junjung, bolak – balik.
  5. Rima mutlak, yaitu seluruh bunyi kata-kata sama. Misalnya:Lihatlah burung merpati itu >Kemana terbangnya setinggi itu
  6. Rima tak sempurna, yaitu hanya sebagia konkonan dan vokal pada suku akhir yang sama.

Berdasrkan letaknya dalam bait, rima dapat dibedakan :
1. Rima silang, a b a b
2. Rima berpeluk, a b b a
3. Rima Terus atau rima rangkai, a a a a
4. Rima pasangan, a a b b
5. Rima putus, a a a b

Bab 7 : Mengapresiasi Hikayat

March 03, 2019 0 Comments
Contoh Mengapresiasi Hikayat
Image result for hikayat
“HIKAYAT BUNGA KEMUNING”
          Dahulu kala, ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya, karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. Istri sang raja sudah meninggal dunia ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Pertengkaran sering terjadi diantara mereka.
            Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Kelabu, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona, Puteri Kuning dan 2 puteri lainnya. Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. Dengan begitu, sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh. Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.
Pada suatu hari, raja hendak pergi jauh. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. "Aku hendak pergi jauh dan lama. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?" tanya raja. "Aku ingin perhiasan yang mahal," kata Puteri Jambon. "Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau," kata Puteri Jingga. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. Ia berpikir sejenak, lalu memegang lengan ayahnya. "Ayah, aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat," katanya. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. "Anakku, sungguh baik perkataanmu. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu," kata sang raja. Tak lama kemudian, raja pun pergi.
Selama sang raja pergi, para puteri semakin nakal dan malas. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu, pelayan tak sempat membersihkan taman istana. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. Tanpa ragu, Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. Daun-daun kering dirontokkannya, rumput liar dicabutnya, dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. Semula inang pengasuh melarangnya, namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya.
Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu, tertawa keras-keras. "Lihat tampaknya kita punya pelayan baru,"kata seorang diantaranya. "Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!" ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya.
"Kalian ini sungguh keterlaluan. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Bisanya hanya mengganggu saja!" Kata Puteri Kuning dengan marah. "Sudah ah, aku bosan. Kita mandi di danau saja!" ajak Puteri Nila. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. Begitulah yang terjadi setiap hari, sampai ayah mereka pulang. Ketika sang raja tiba di istana, kesembilan puteri nya masih bermain di danau, sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Mengetahui hal itu, raja menjadi sangat sedih. "Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini, bukannya warna kuning kesayanganmu!" kata sang raja.
Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri, namun benda itu tak pernah ditemukannya. "Sudahlah Ayah, tak mengapa. Batu hijau pun cantik! Lihat, serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning," kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. "Yang penting, ayah sudah kembali. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah," ucapnya lagi. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh, kakak-kakaknya berdatangan. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning, apalagi menanyakan hadiahnya. Keesokan hari, Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri.
Ayah memberikannya padaku, bukan kepadamu," sahut Puteri Kuning. Mendengarnya, Puteri Hijau menjadi marah. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. "Kalung itu milikku, namun ia mengambilnya dari saku ayah. Kita harus mengajarnya berbuat baik!" kata Puteri Hijau. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. Tak lama kemudian, Puteri Kuning muncul. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Tak disangka, pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. "Astaga! Kita harus menguburnya!" seru Puteri Jingga. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning, lalu menguburnya di taman istana. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau, karena ia tak menginginkannya lagi.
Sewaktu raja mencari Puteri Kuning, tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. Raja sangat marah. "Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!" teriaknya. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil mencarinya. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya." Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!" Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana, sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas.
Suatu hari, tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Sang raja heran melihatnya. "Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. Baiklah, kuberi nama ia Kemuning.!" kata raja dengan senang. Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. Bahkan, bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah, sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. Setelah mati pun, Puteri Kuning masih memberikan kebaikan.

Singkat Cerita “Hikayat Bunga Kemuning”
            Dahulu kala ada seorang raja yang memiliki 10 orang puteri yang diberi nama Puteri Jambon, Puteri Jingga, Puteri Nila, Puteri Hijau, Puteri Ungu, Puteri Kelabu, Puteri Biru, Puteri Oranye, Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning.Istri raja meninggal dunia setelah melahirkan Puteri Kuning. Ke-9 puteri sangat manja dan nakal, berbeda dengan si bungsu Puteri Kuning yang ramah dan baik hati.
            Suatu hari raja hendak pergi jauh. Ke-9 puterinya meminta oleh-oleh yang mewah, namun Puteri Kuning hanya memint ayahnya kembali dengan selamat.
            Ketika sang raja pulang, ia memberi Puteri Kuning sebuah kalung batu hijau. Puteri Hijau merasa cemburu, ia bersama saudaranya yang lain memukul kepala Puteri Kuning hingga ia meninggal. Tanpa sepengetahuan orang-orang istana, ke-9 puteri mengubur Puteri Kuning.
            Mengetahui puteri bungsunya hilang, sang raja mencarinya, namun pencariannya tak membuahkan hasil.
          Suatu hari tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning.Karena tanaman tersebut nampak seperti Puteri Kuning, maka sang raja menamainya Puteri Kemuning.


UNSUR INTRINSIK
Alur/plot         : Alur Maju
                          Bukti : karna dalam cerita ini tidak menceritakan tentang masa lalu.

Tema              : Kekeluargaan, Kerajaan dan Kasih sayang tulus seorang anak kepada                                 ayahnya.

Latar/setting  :
1.    Latar tempat :
Kerajaan (bukti: hikayat ini mengisahkan tentang kerajaan jaman dahulu.)
Taman (bukti : tanpa ragu, putri kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu.)
Danau (bukti : ketika sang raja tiba di istana kesembilan putrinya masih bermain di danau.)
Teras istana (bukti : sementara putri kuning sedang merangkai bunga di teras istana.)
2.    Latar waktu : Pada zaman dahulu kala
3.    Latar suasana : Sedih (bukti: berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, tak ada yang berhasil menemukan Putri Kemuning. Raja sangat sedih. "Aku ini ayah yang buruk," katanya.)

Tokoh:
1.      Protagonis       : Raja dan Putri Kuning
2.      Antagonis        : Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah Merona, Putri Kuning dan 2 putri lainnya.

Karaker tokoh-tokoh
1.      Raja :
Bijaksana (bukti: sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana)
Penyayang (bukti: sang raja sangat menyayangi anak-anaknya)
2.      Putri kuning :
Baik hati (bukti: karna para inang sibuk untuk menuruti permintaan kakak-kakaknya, taman menjadi tidak ada yang membersihkan. Tapi dengan senang hati putri kuning mau membantu membersihkan taman.)
Penyabar (bukti: “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Taman istana yang sudah rapi, kembali acak-acakan. Putri kuning diam saja dan menyapu sampah sampah itu.) 
Ramah (bukti: Sebaliknya ia selalu riang dan tersenyum ramah kepada siapa pun.)
3.      Puteri Hijau         : Jahat mudah iri (bukti: Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya. "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku, karena aku adalah Puteri Hijau!" katanya dengan perasaan iri)
4.      Kakak-kakak putri kuning : Nakal, manja, jahat. (bukti: sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka, merampas kalung putri kuning, menangkap dan memukul kepala putri kuning sampai putri kuning meninggal dan menguburnya tanpa memberitahu ayahnya (raja).

Sudut Pandang          : Orang Pertama dan orang ketiga.

Amanat :
-Berlaku baiklah kepada sesama saudara kita
-Berfikirlah terlebih dahulu ketika kita akan bertindak



UNSUR EKSTRINSIK
 Nilai Sosial
Mencoba untuk lebih baik
 Nilai Agama
Berbuat baik walaupun dibalas kejahatan
(Bukti agama islam)
“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).” (QS. An-Nisa [4]: 36).
“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yg lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96)
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]: 60).
“Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.”(QS. Al-Qashash [28]:54)
“Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (SQ. Al-Qashash [28]:84)
Allah Ta’ala berfirman,
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatansekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.“
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا
Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.“ (QS. Ali Imran: 30).

 Nilai Moral
Keburukan akan terbongkar dengan sendirinya walaupun ditutupi.
 Nilai Budaya
Sopan dan santun kepada orang tua, Pada jaman dahulu tentang pemberian nama putri atau putra.

Gaya Bahasa :
Majas metafora : Batangnya bagaikan jubah puteri, daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau, bunganya putih kekuningan dan sangat wangi!

Majas ironi      : "Wahai adikku, bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku
Majas Paradoks : Meskipun kecantikan mereka hampir sama, si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda, Ia tak terlihat manja dan nakal. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. Ia lebih suka bebergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya.

Bab 6 : Relasi Makna

March 03, 2019 0 Comments

Bab 5 : Frasa

March 03, 2019 0 Comments

FRASA 

Related image

Sebuah kalimat tersusun atas beberapa satuan. Satuan itu tersusun dari satu kata atau lebih. Dan satuan pembentuk kalimat tersebut menempati fungsi tertentu.
Fungsi tersebut yaitu Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel.), dan Keterangan (Ket.)
Fungsi diatas boleh ada atau tidak dalam sebuah kalimat. Tetapi ada fungsi yang wajib ada yaitu Subjek (S) dan Predikat (P).
Nah fungsi di dalam kalimat bisa tersusun atas katafrasa, maupun klausa.

Pengertian Frasa

Frasa adalah satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat. Frasa tidak bisa membentuk kalimat sempurna karena tidak mempunyai predikat.
Contoh frasa: Tiga orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
Perhatikan penjelasan fungsi kalimat di atas:
  • Tiga orang mahasiswa (S)
  • sedang membaca (P)
  • di perpustakaan (Ket. tempat).
Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa, yaitu ‘tiga orang mahasiswa’, ‘sedang membaca’, dan ‘di perpustakaan’.

Ciri-Ciri Frasa

Untuk lebih memahami materi frasa ini, kamu harus mengerti ciri-ciri frasa berikut ini yang Yuksinau.id dapat, yaitu:
  • Frasa harus terdiri minimal dua kata atau lebih
  • Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal dalam kalimat
  • Frasa harus mempunyai satu makna gramatikal
  • Frasa bersifat nonpredikatif
  • Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat

Kategori Frasa

1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
Suatu frasa disebut setara jika unsur penyusun nya mempunyai kedudukan yang sama atau setara.
Contoh: Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
Frasa “saya dan adik” merupakan frasa sama, karena antara unsur “saya” dan unsur “adik” memiliki kedudukan yang setara atau tidak saling menjelaskan.
Demikian juga frasa “makan-makan” dan “minum-minum” termasuk frasa setara.
Frasa setara ditandai oleh adanya kata ‘dan‘ / ‘atau‘ di antara kedua unsur nya.
Selain frasa setara, ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat merupakan frasa yang terdiri atas inti dan atribut.
Contoh: Kakak akan pergi nanti malam.
Frasa “nanti malam” terdiri atas unsur atribut dan inti.
2. Frasa Idiomatik
Perhatikan 2 kalimat dibawah ini:
(a) Dalam peristiwa kebakaran kemarin, seorang penjaga toko menjadi kambing hitam.
(b) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih seekor kambing hitam.
Kalimat (a) dan (b) menggunakan frasa yang sama, yaitu frasa ‘kambing hitam‘.
Pada kalimat (a) kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan dalam suatu kejadian, sedangkan dalam kalimat (b) bermakna seekor kambing yang mempunyai warna bulu hitam.
Makna kambing hitam di kalimat (a) tidak ada hubungannya dengan makna kata kambing dan hitam.
Nah frasa yang maknanya tidak bisa dijelaskan berdasarkan makna kata yang membentuknya dinamakan frasa Idiomatik.

Konstruksi Frasa

Frasa mempunyai 2 konstruksi, yaitu konstruksi endosentrik dan eksosentrik.
Perhatikan kalimat berikut: Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.
1. Frasa Eksosentrik
Kalimat tersebut terdiri dari frasa ‘kedua saudagar itu’, ‘telah mengadakan’ dan ‘jual beli’. Menurut distribusi nya frasa ‘kedua saudagar itu’ dan ‘telah mengadakan’ adalah frasa endosentrik. Sedangkan frasa ‘jual beli’ adalah frasa eksosentrik.
Frasa kedua saudagar itu bisa diwakili kata saudagar. Frasa telah mengadakan juga bisa diwakili kata mengadakan.
Tetapi frasa jual beli tidak bisa diwakili oleh kata jual maupun beli, Karena kedua kata tersebut merupakan inti, sehingga mempunyai kedudukan yang sama.
Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik.
2. Frasa Endosentrik
Meliputi 3 jenis yaitu:
  • Frasa Endosentrik yang Koordinatif: dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”. Contoh: Pintu dan jendela sedang dicat.
  • Frasa Endosentrik yang Atributif: tersusun dari unsur-unsur yang tidak setara. Contoh: Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji Manarul.
  • Frasa Endosentrik yang Apositif: secara semantik, unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur keterangan merupakan aposisi. Contoh: Arum, putri Pak Ruchan, berhasil menjadi pelajar teladan.

Kelas Frasa

Frasa terbagi jenisnya menjadi 6 kelas kata. Meliputi frasa benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.
1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
Frasa yang distribusinya sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda, yaitu kata benda.
Contoh:
  • Bara menerima hadiah ulang tahun.
  • Bara menerima hadiah.
Alasannya karena frasa hadiah ulang tahu di kalimat distribusi sama dengan kata benda hadiah.
2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
Frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba.
Contoh: Arum sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
Disebabkan karena frasa akan menulis adalah kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja menulis.
3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
Frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Memiliki inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi tersebut bisa dilihat dari contoh frasa berikut.
Contoh:
  • Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
  • Lukisan yang dipamerkan itu-bagus-bagus.
4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
Frasa yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Umumnya inti frasa keterangan juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.
– Frasa keterangan sebagai keterangan
Frasa keterangan umumnya mempunyai keleluasan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Sebab itu frasa keterangan bisa terletak di depan atau belakang subjek.
Contoh:
  • Tidak biasanya dia pulang larut malam
  • Dia tidak biasanya pulang larut malam
  • Dia pulang larut malam tidak biasanya
– Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja
Contoh: Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu
5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
Frasa yang distribusinya sama dengan kata bilangan. Biasanya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan.
Contoh: Tiga orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.
6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
Frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas.
Contoh: Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.
Frasa Yang Bersifat Ambigu
Ambiguitas kadang ditemukan dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna.
Contoh: Kambing hitam dan mobil tetangga baru.
Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu.
Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu hitam dan suatu ungkapan yang berarti orang yang dipersalahkan.
Frasa mobil tetangga baru juga bisa mempunyai 2 makna, yaitu yang baru adalah mobil dan yang baru adalah tetangganya (bukan mobilnya.
Frasa ambigu akan menjadi jelas ketika digunakan dalam kalimat.

Bab 4 : Morfologi dan Gramatikal

March 03, 2019 0 Comments

Morfologi

Image result for gramatikal


Proses Morfologi dan Afiksasi

1Proses morfologi
Proses Morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan (dalam proses reduplikasi), penggabungan (dalam proses komposisi), pemendekan (dalam proses akronimisasi), dan pengubahan status (dalam proses konversi).
(Abdul Chaer, 2008: 25)
            Ahli lain berpendapat bahwa proses morfologi adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.
(Prof.Drs.M.Ramlan, 2009: 51)
            Dalam analisis morfologi, seperti menggunakan teknik Immediate Constituen Analysis, terhadap kat berpakaian, misalnya mula-mula kata berpakaian dianalisis menjadi bentuk ber- dan pakaian; lalu bentuk pakaian dianalisis lagi menjadi menjadi bentuk pakai dan –an. Maka dalam proses morfologi prosedurnya dibalik : mula-mula dasar pakai diberi sufiks –an menjadi berpakaianJadi, kalau analisis morfologi mencerai-ceraikan data kebahasaan yang ada, sedangkan proses morfologi menyusun dari komponen-komponen kecil menjadi sebuah bentuk lebih besar yang berupa kata kompleks atau kata yang berpolimorfemis.
Dalam proses morfologi melibatkan komponen-komponen, antara lain :
1.      Bentuk dasar, merupakan bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Bentuk dasar tersebut dapat berupa akar seperti pada katabacajuangpahat pada kata membacaberjuang dan memahat. Dalam bentuk polimorfemis seperti bentuk bermaknaberlari, dan jual beli pada kata kebermaknaanberlari-lari, dan berjual beli.
Dalam proses reduplikasi, bentuk dasar dapat berupa akar, seperti akarrumah pada kata rumah-rumah, akar tinggi pada kata tinggi-tinggi, dan akarmarah pada kata marah-marah.
Dalam proses komposisi dapat berupa akar sate pada kata sate ayamsate padang, dan sate lontong. Dapat berupa dua buah akar seperti akar kampungdan akar halaman pada kata kampung halaman, atau akar tua dan akar mudapada kata tua muda.
Menurut kajian tradisional dan struktural bentuk dasar pada kata pelajardan pengajar memiliki kesamaan yaitu pada kata dasar akar ajar. Dalam kajian proses disini bentuk dasar kedua kata itu tidaklah sama. Bentuk kata dasar pelajar adalah belajar, sedangkan bentuk kata dasar pengajar adalahmengajar. Karena makna gramatikal kata belajar adalah ‘orang yang belajar’ sedangkan makna gramatikal pengajar adalah ‘orang yang mengajar’.





2.      Alat pembentuk (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akrominasi, dan konversi)
a)      Afiksasi, dalam proses ini sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Contoh : me + buang membuang
b)      Reduplikasi, dalam proses ini sering disebut dengan istilah kata ulang. Secara umum dikenal adanya tiga macam pengulangan, yaitu pengulangan secara utuh, pengulangan dengan pengubahan bunyi vokal maupun konsonan, dan pengulangan sebagian.

c)      Komposisi, dalam proses ini terdapat penggabungan sebuah bentuk pada bentuk dasar. Penggabungan ini juga merupakan alat yang digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. Contoh : merah → merah jambu, merah darah, merah bata
d)     Akronimisasi, dalam proses ini terdapat abreviasi khusus karena semua abreviasi menghasilkan akronim.
Contoh : SMA  → Sekolah Menengah Atas ( bukan akronim)
                  Jagorawi  → Jakarta, Bogor, Ciawi ( akronim )
e)      Konversi, dalam proses ini terdapat pengubahan status.
Misal : gunting ( nomina) → ‘gunting ini terbuat dari baja’
→  menjadi gunting ( verba) → ‘gunting dulu baik-baik, nanti baru dilem’
3.      Hasil proses pembentukan
      Dalam proses morfologi atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal. Bentuk dan makna gramatikal merupakan dua hal yang berkaitan erat; bentuk merupakan wujud fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk itu.
      Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata berafiks, disebut juga dengan kata imbuhan, kata turunan, atau kata terbitan. Wujud fisik dari reduplikasi adalah kata ulang, atau disebut dengan bentuk ulang. Wujud fisik dari hasil proses komposisi adalah kata gabung, atau disebut gabungan kata, kelompok kata, atau kata majemuk.
4.      Makna gramatikal, mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata. Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan makna / bentuk dasarnya.
Contoh : berdasi memiliki makna gramatikal ‘memiliki dasi’ ; berkuda memiliki makna gramatikal ‘mengendarai kuda’ ; berdiskusi memiliki makna gramatikal ‘melakukan diskusi’.
5.      Proses pembentukan
a.       Pembentukan setahap, terjadi kalau bentuk dasarnyaberupa akar atau morfem dasar (baik bebas maupun terikat).
Contoh : me- + beli → membeli ; ber- + air → berair ; se- + kelas  → sekelas
b.      Pembentukan bertahap, terjadi kalau bentuk dasar yang mengalami proses morfologi itu berupa bentuk polimorfemis yang sudah menjadi kata (baik kata berimbuhan, kata berulang, maupun kata gabung).
Contoh : ber- + (pakai + -an) → berpakaian ; mem- + (ber- + laku) + -kan
c.       Pembentukan kata yang prosesnya melalui bentuk perantara adalah seperti terjadi dalam proses pembentukan kata pengajar. Secara kasat mata, bentuk pengajar tampaknya dibentuk dari berupa akar ajaryang diberi prefiksasi pe-. Namun, sebenarnya proses itu terjadi melalui bentuk kata mengajar sebab makna gramatikal pengajaradalah ‘yang mengajar’.
6.      Bentuk Inflektif dan Derivatif
Dalam pembentukan kata inflektif identitas leksikal kata yang dihasilkan sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya. Sebaliknya, dalam proses pembentukan derivatif identitas bentuk yang dihasilkan tidak sama dengan identitas leksikal bentuk dasarnya.
Contoh : pembentukan kata membeli dari dasar beli adalah sebuah kasus inflektif; tetapi pembentukan kata pembeli dari dasar beli adalah sebuahkasus derivatif.
Dasar beli dan kata membeli sama-sama berkategori verba; sedangkan dasar beli dan kata pembeli tidak sama kategorinya; beli adalah verba dan pembeli adalah nomina.
7.      Produktivitas proses dalam pembentukan kata, merupakan dapat tidaknya sebuah proses dilakukan secara berulang-ulang dalam pembentukan kata. Proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi secara umum dapat dikatakan sangat produktif; tetapi proses konversi dan akronimisasi cukup terbatas.

11 .      Afiksasi, merupakan salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori  verba, nomina, maupun ajektiva. ( dikutip dari Abdul Chaer : 2008 : 106 )            Namun menurut ahli lain, afiksasi adalah bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk menurunkan kata (Alwi, 2003: 31). Pengertian lain afiksasi adalah proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata (Cahyono, 1995:145). Contoh: Berbaju, menemukan, ditemukan, jawaban.

A.    Pembentukan verba
a)      Verba berprefiks { ber- } , dapat berupa :
·         Morfem dasar terikat :
Bertempur → ber + tempur
Berkelahi → ber + kelahi
Berjuang → ber + juang
·         Morfem dasar bebas :
Berladang → ber + ladang
Bekerja → ber + kerja
Bernyanyi → ber + nyanyi
·         Bentuk turunan berafiks :
Berpakaian → { ber- } + pakaian ( pakai + an)
Beraturan → { ber- } + aturan ( atur + an)
Berkekuatan → { ber- } + kekuatan ( kuat + ke/an)
·         Bentuk turun reduplikasi :
Berlari-lari → { ber- } + lari-lari
Berkeluh-kesah → { ber- } + keluh-kesah
Berilmu-pengetahuan → { ber- } + ilmu-pengetahuan
·         Bentuk turunan hasil hasil komposisi :
Berjual beli → ber + jual beli
Bertemu muka → ber + temu muka
Bergunung api → ber + gunung api

Ø   Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘mempunyai (dasar)’ atau ‘ada (dasar)nya’. Contoh : berayah  → memiliki ayah, berjendela → ada jendelanya, bermesin  → ada mesinnya
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘memakai’ atau ‘mengenakan’. Contoh : berkebaya → memakai kebaya,berkalung  → memakai kalung, berpita → memakai pita
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal‘mengendarai’, ‘menumpang’ atau ‘naik’. Contoh : bersepeda→ mengendarai sepeda, berkuda → naik kuda, berkereta → menumpang kereta
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘berisi’ atau ‘mengandung’. Contoh : beracun → mengandung racun,berpenyakit → mengandung penyakit, berair → berisi air
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal‘mengeluarkan’ atau ‘menghasilkan’. Contoh : perproduksi → menghasilkan produksi, berdarah → mengeluarkan darah
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal‘mengusahakan’ atau ‘mengupayakan’. Contoh : bersawah → mengusahakan sawah, bercocok tanam → mengusahakan cocok tanam
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘melakukan kegiatan’. Contoh : berdebat → melakukan debat, berdiskusi → melakukan diskusi, berolahraga → melakukan olahraga
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘mengalami’ atau ‘berada dalam keadaan’. Contoh : bergembira → mengalami keadaan gembira, bersenang-senang → dalam keadaan senang
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘menyebut’ atau ‘menyapa’. Contoh : berabang → memanggil abang,berkakak → menyebut kakak, bertuan → memanggil tuan
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘kumpulan’ atau ‘kelompok’. Contoh : berdua →kumpulan dari dua (orang)
Ø  Verba berprefiks { ber- } memiliki makna gramatikal ‘memberi’. Contoh : bersedekah → memberi sedekah, berceramah → memberi ceramah

b)      Verba berkonfiks dan klofiks { ber- / -an }
Ø  Verba berkonfiks { ber-an } memiliki makna gramatikal‘banyak serta tidak teratur’, apabila memiliki komponen makna (tindakan), (sasaran), (gerak). Contoh : berlarian → banyak yang berlari dan tidak teratur
Ø  Verba berkonfiks { ber-an } memiliki makna gramatikal‘saling’ atau ‘berbalasan’, apabila memiliki komponen makna (tindakan), (sasaran), (gerak). Contoh : bermusuhan → bsaling memusuhi
Ø  Verba berkonfiks { ber-an } memiliki makna gramatikal ‘saling berada di’, apabila memiliki komponen makna (benda), (letak), (tempat). Contoh : bersebelahan → saling berada di sebelah

c)      Verba berklofiks { ber- / -kan }
Ø  Verba berklofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks –kan. Contoh : Bermodalkan → (ber+modal) + kan
       Bersenjatakan → (ber+senjata) + kan


d)     Verba bersufiks { -kan }
Ø   Verba bersufiks { -kan } memiliki makna gramatikal‘jadikan’, apabila memiliki komponen makna (keadaan)dan (sifat khas). Contoh : tenang → jadikan tenang ; putus  → jadikan putus
Ø  Verba bersufiks { -kan } memiliki makna gramatikal ‘jadikan berada di’, apabila memiliki komponen makna (tempat) atau (arah). Contoh : pinggirkan → jadikan berada di pinggir
Ø  Verba bersufiks { -kan } memiliki makna gramatikal ‘lakukan untuk orag lain’, apabila memiliki komponen makna (keadaan)dan (sifat khas). Contoh : bukakan → lakukan buka untuk (orang lain)
Ø  Verba bersufiks { -kan } memiliki makna gramatikal ‘lakukan akan’, apabila memiliki komponen makna (keadaan)dan (sifat khas). Contoh : lemparkan → lakukan lempar akan
Ø  Verba bersufiks { -kan } memiliki makna gramatikal ‘bawa masuk ke’, apabila memiliki komponen makna (keadaan)dan (sifat khas). Contoh : gudangkan → bawa masuk ke gudang

e)      Verba bersufiks { -i }
Ø   Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘berulang kali’, apabila memiliki komponen makna (tindakan)dan (sasaran). Contoh : pukuli → pekerjaan pukul dilakukan berulang kali
Ø  Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘tempat’, apabila memiliki komponen makna (tempat)
Contoh : duduki → duduk di ( ....)
Ø  Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘merasa sesuatu pada’, apabila memiliki komponen makna (sikap batin) atau (emosi)
Contoh : hormati → merasa hormat pada
Ø  Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘memberi’ atau ‘membubuhi’, apabila memiliki komponen makna (bahan berian). Contoh : gulai → beri gula pada
Ø  Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘jadikan’ atau ‘sebabkan’, apabila memiliki komponen makna (keadaan) atau (sifat). Contoh : lengkapi → jadikan lengkap
Ø  Verba bersufiks { -i } memiliki makna gramatikal ‘lakukan pada’, apabila memiliki komponen makna (tindakan) dan (tempat). Contoh : tanggapi → lakukan tanggap pada

f)       Verba berprefiks { per- }
Ø   Verba berprefiks { per- } memiliki makna gramatikal ‘jadikan lebih’, apabila memiliki komponen makna (keadaan) atau (situasi). Contoh : perlebar → jadikan lebih lebar
Ø  Verba berprefiks { per- } memiliki makna gramatikal ‘anggap sebagai’ atau ‘jadikan’, apabila memiliki komponen makna   (sifat khas). Contoh : perbudak → anggap sebagai budak
Ø  Verba berprefiks { per- } memiliki makna gramatikal ‘bagi’, apabila memiliki komponen makna (jumlah) atau (bilangan) Contoh : berdua → bagi dua ; berlima → bagi lima

g)      Verba berkonfiks { per- / -kan }
Ø  Verba berkonfiks { per- / -kan } memiliki makna gramatikal‘jadikan bahan per-an’, apabila memiliki komponen makna (kegiatan). Contoh : pertanyakan → jadikan bahan pertanyaan
Ø  Verba berkonfiks { per- / -kan } memiliki makna gramatikal‘lakukan supaya (dasar)’, apabila memiliki komponen makna (keadaan). Contoh : persamakan → lakukan supaya sama
Ø  Verba berkonfiks { per- / -kan } memiliki makna gramatikal‘jadikan me-’, apabila memiliki komponen makna (tindakan). Contoh : pertontonkan → jadikan (orang lain) menonton
Ø  Verba berkonfiks { per- / -kan } memiliki makna gramatikal‘jadikan ber-’, apabila memiliki komponen makna (kejadian). Contoh : pergunakan → jadikan berguna

h)      Verba berkonfiks { per- / -i }
Ø   Verba berkonfiks { per- / -i } memiliki makna gramatikal‘lakukan supaya jadi’, apabila memiliki komponen makna (keadaan). Contoh : perbaiki → lakukan supaya jadi baik
Ø  Verba berkonfiks { per- / -i } memiliki makna gramatikal‘lakukan (dasar) pada objeknya’, apabila memiliki komponen makna (tindakan) dan (lokasi). Contoh : persetujui→ lakukan setuju pada objeknya

i)        Verba berprefiks { me- }
ü  Apabila me- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem r, l,w, y, m,n ,ny,dan ng
contoh : merawat, meyakini, memerah, menyala, mewasitkan
ü  Apabila mem- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem b, p, f, dan v
contoh : membina,memfitnah,memveto, dan memotong
ü  Apabila men- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem d dan t
contoh : menduda, mendengar, mendidik, menendang
ü  Apabila meny- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem s, c, dan j
contoh : mencuri → menycuri, menjual → menycuri, menyikat
ü  Apabila meng- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem k,g, h, kh, a, i, u, e dan o
contoh : menggali, menghibur, mengirus, mengelak




j)        Verba berprefiks { di- }
Ø  Verba berprefiks { di- } dibagi menjadi dua, antara lain :
ü  Verba berprefiks { di- } inflektif adalah verba pasif. Memiliki makna gramatikal yang berkebalikan dari bentuk aktif verba berprefiks me- inflektif
ü  Verba berprefiks { di- } derivatif, sejauh data yang diperoleh hanya ada kata dimaksud, yang lain tidak ada

k)      Verba berprefiks { ter- }
Ø   Verba berprefiks { ter- } inflektif adalah verba pasif keadaan dari verba perprefiks { me- } inflektif dan memiliki makna gramatikal :
ü  Dapat atau sanggup, apabila memiliki komponen makna (tindakan) dan (sasaran)
Contoh : terangkat → dapat diangkat
ü  Tidak sengaja, apabila memiliki komponen makna (tindakan) dan (sasaran)
Contoh : terbaca → tidak sengaja dibaca
ü  Sudah terjadi, apabila memiliki komponen makna (tindakan) dan (keadaan)
Contoh : tertabrak → sudah terjadi (tabrak)
Ø  Verba berprefiks { ter- } derivatif memiliki makna makna gramatikal :
ü  Paling, apabila memiliki komponen makna (keadaan)
Contoh : terbaik → paling baik
ü  Dalam keadaan, apabila memiliki komponen makna (keadaan) dan (kejadian)
Contoh : tergeletak → dalam keadaan geletak
ü  Terjadi dengan tiba-tiba, apabila memiliki komponen makna (kejadian)
Contoh : teringat → tiba-tiba ingat

l)        Verba berprefiks { ke- }
Verba berprefiks { ke- } diunakan dalam Bahasa ragam tidak baku. Fungsi an makna gramatikalnya sepadan dengan verba berprefiks { ter- }
Contoh : kebaca sepadan dengan terbacaketabrak sepadan dengantertabrakketangkap sepadan dengan tertangkap

m)    Verba berkonfiks { ke- / -an }
Ø   Verba berkonfiks { ke- / -an } memiliki makna gramatikal‘terkena, mengalami, menderita (dasar)’, apabila memiliki komponen makna (peristiwa alam) atau (hal yang tidak enak). Contoh : kebanjiran → terkena banjir
Ø   Verba berkonfiks { ke- / -an } memiliki makna gramatikal‘agak (dasar)’, apabila memiliki komponen makna (warna)
Contoh : kekuningan → agak kuning

B.     Pembentukan nomina
a)      Nomina berprefiks { ke- }
Contoh : ketua  → yang dituai
Kekasih  → yang dikasihi
kehendak  → yang dikehendaki
b)      Nomina berkonfiks { ke- / -an }
v  Dibentuk langsung dari kata dasar, baik dari akar tunggal maupun  akar majemuk
contoh : kehutanan  → ke-an + hutan
             keolahragaan  → ke-an + olahraga
a.       ‘hal ( dasar )’ atau ‘tentang (dasar)’, apabila bentuk dasarnya itu memiliki komponen makna (bendaan) dan (objek bicara)
        Contoh : kehutanan  → hal tentang hutan
               kebersamaan  → hal tentang bersama
b.      ‘tempat’ atau ‘wilayah’, apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (bendaan), (wilayah), (jabatan)
Contoh : kecamatan  → wilayah camat
                   kesultanan  → wilayah sultan
v  Dibentuk dari akar, tetapi melalui verba (yang dibentuk dari akar tersebut) yang menjadi predikat dalam satu klausa
contoh : keberanian  → berani + ke-an  → mereka sungguh berani
              kesedihan  → sedih + ke-an  → kami sangat sedih
a.       ‘hal (dasar)’ atau ‘majemuk’, apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (keadaan)
Contoh : keberanian  → artinya ‘hal berani’  → dibentuk dari kata verba berani  → anak kecil ituberani sekali
b.       ‘hasil me-kan’, apabila verba yang dilaluinya memiliki komponen makna (tindakan) dan (sasaran)
Contoh : ketetapan  → artinya ‘hasil menetapkan’  → dibentuk  → DPRD akan menetapkan UU baru
c). Nomina berprefiks { pe- }, memiliki makna gramatikal :
Ø  Nomina berprefiks { pe- } yang mengikuti kaidah persengauan, dapat berbentuk pe-, pem-, pen-, per, peng, peny, dan penge. Persengauannya sama dengan persengauan pada prefiks me-
ü  Apabila pe- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem r, l,w, y, m,n ,ny,dan ng
contoh : perawat → verba : merawat peyakin → meyakini
ü  Apabila pem- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem b, p, f, dan v
contoh : pembina → verba : membina pemveto → memveto
ü  Apabila men- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem d dan t
contoh : pendengar→verba : mendengar pendidik→ mendidik
ü  Apabila meny- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem s, c, dan j
contoh : penjual → verba : menjual penjahit → menjahit
ü  Apabila peng- digunakan dengan bentuk dasar yang dimulai dari fonem k,g, h, kh, a, i, u, e dan o
contoh : penggugat → verba : menggugat
ü  Apabila penge- digunakan dengan bentuk dasarnya berupa bentuk ekasuku
contoh : pengecat → verba : mengecat;pengebom→mengebom
ü  Apabila pe- mengikuti kaidah persengauan dibentuk dari dasar melalui verba dari suatu klausa. Sehingga ,makna gramatikal yang dimilikinya adalah yang (dasar) → pendatang, pemabuk, pemalas , yang me- (dasar) → penulis, penonton, pelatih, yang me-kan (dasar) → penjinak, pembersih, pewangi, dan yang  me-i (dasar) → pewaris, pengunjung, pelengkap

Ø  Nomina berprefiks { pe- } yang tidak mengikuti kaidah persengauan, yang memiliki mskns grsmstikal ‘yang ber- (dasar)’
Contoh : peladang  → berladang ; pedagang  → berdagang
Ø  Nomina berprefiks { pe- } melalui proses analogi, yang dibagi menjadi dua, antara lain :
ü  Adanya bentuk penyuruh, yang memiliki makna gramatikal ‘yang menyuruh’ dan bentuk pesuruh , yang memiliki makna gramatikal ‘yang disuruh’
ü  Adanya bentuk petinju dan pegulat dengan makna gramatikal ‘yang berolahraga tinju’ dan ‘yang berolahraga gulat’

d). Nomina konprefiks { pe- / -an }, yang mempunyai enam buah bentuk atau alomorf, antara lain :
ü  Bentuk atau alomorf pe-an → perawatan, pelarian, pewarisan
ü  Bentuk atau alomorf pem-an →  pembinaan, pembakaran, pemilihan
ü  Bentuk atau alomorf pen-an → pendengaran, penertiban, penentuan
ü  Bentuk atau alomorf peng-an  → pengiriman, penghukuman, pengambilan
ü  Bentuk atau alomorf penge-an → pengecatan, pengetikan, pengesahan

e). Nomina berkonfiks { per- / -an }
Ø  Nomina berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar melalui verba ber- bentuknya mengikuti perubahan bentuk prefiks ber-, sehingga menjadi bentuk per-an, pe-an, pel-an → perselingkuhan(berselingkuh), pergaulan (bergaul), perladangan (berladang)
Ø  Bentuk atau alomorf pe-an digunakan apabila diturunkan dari dasar melalui verba berbentuk be-  → pekerjaan (bekerja), peternakan (beternak), dan pecerminan (becermin)
Ø  Nomina berkonfiks per-an yang dibentuk dari dasar (baik akar maupun bukan) nomina  → perkaretan, perkebunan, perburuhan, perbelanjaan
ü  ‘hal ber- (dasar)’ → pergerakan memiliki makna ‘hal bergerak’, pertemuan memiliki makna ‘hal bertemu’
ü  ‘hal, tentang atau masalah (dasar)’ → perekonomian memiliki makna ‘hal ekonomi’, perhotelan memiliki makna ‘hal hotel’
ü  ‘daerah, wilayah, atau tempat’  → pgunungan memiliki makna ‘daerah gunung’, pemukiman memiliki makna ‘wilayah mukim’
f). Nomina bersufiks { -an }
Ø  Nomina bersufiks –an yang dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal :
Ø  Nomina bersufiks –an yang dibentuk dari dasar melalui verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘tempat ber- (dasar)’. Misalnya : kubangan → lubang-lubang di jalan, tepian  → mereka memancing di tepian sungai, dan pangkalan  → pangkalan ojek ramai
Ø  Nomina bersufiks –an yang dibentuk dari dasar langsung yang memiliki makna gramatikal:
ü  Tiap-tiap, apabila memiliki komponen makna (ukuran) atau (takaran). Misal : bulanan  → majalah ini terbit bulanan
ü  Banyak (dasar), apabila memiliki komponen makna (bendaan) dan (kecil). Misal : ubanan, kutuan, jamuran
ü  Bersifat (dasar), apabila memiliki komponen makna (keadaan). Misal : murahan, asinan, dan manisan

g). Nomina bersufiks { -nya }
ü  ‘hal (dasar)’, apabila memiliki komponen makna (keadaan). Misal : naiknya, mahalnya, dan luasanya
ü  Penegasan, apabila memiliki komponen makna (bendaan) atau (tindakan). Misal : nasinya, airnya, pulangnya, dan datangnya

h). Nomina berprefiks { ter- }
Memiliki makna gramatikal ‘yang di- (dasar)’ dan hanya terdapat sebagai istilah dalam bidang hukum. Nomina tersebut antara lain : tersangka, terperiksa, terdakwa, tergugat, tertuduh, terhukum, dan terpidana

i). Nomina berinfiks { -el }, { -em }, { -er }
contoh : tapak  → telapak, tunjuk  →telunjuk, getar  → gemetar, gigi → geligi



C.     Pembentukan ajektifa
Ø Dasar Ajektifa Berafiks Asli Indonesia
a)      Dasar ajektifa berprefiks { pe- }
ada dua macam proses pembubuhan prefiks { pe- } pada kata dasar adjektiva :
v   Imbuhan secara langsung, dapat terjadi kalau dasar ajektiva itu memiliki komponen makna ( sikap batin ) dan memberi makna gramatikal ‘yang memiliki sifat (dasar)’
  Contoh : Pemalu → pe + malu
              Pembenci  → pe + benci
v  Pemberian prefiks { pe- } melalui verba berklofiks { me- / -kan} dapat terjadi apabila dasar ajektifa itu memiliki komponen makna ( keadaan fisik ) dan memiliki makna gramatikal ‘yang menjadikan ( dasar )’
Contoh : Pembersih  → pe + bersih
              Pengering  → pe + kering
b)      Dasar ajektifa berprefiks { se- }
  Memiliki makna gramatikal ‘sama (dasar)’ dengan nomina yang mengikutinya’
contoh : Sepintar Andi  → sama pintarnya dengan Andi
              Seputih Putri  → sama putihnya dengan Putri
c)      Dasar ajektifa bersufiks { -an }
 Memiliki makna gramatikal ‘lebih (dasar)’ pada nomina yang mengikutinya
Contoh : Pintaran Andi   → lebih pintar Andi
              Seputih Putri  → lebih putih Putri
d)     Dasar ajektifa berprefiks { ter- }
 Memiliki makna gramatikal ‘paling (dasar)’
Contoh : terpintar → paling pintar
              terputih → paling putih
e)      Dasar ajektifa berkonfiks { ke- / -an }
 Memiliki makna gramatikal ‘lebih (dasar)’ pada nomina yang mengikutinya
Contoh : kehitaman → agak hitam
              kekuningan → agak kuning
f)       Dasar ajektifa berklofiks { me- / -kan }
 Memiliki makna gramatikal ‘menyebabkan jadi (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna
Contoh : mengecewakan  → menyebabkan kecewa
              Memprihatinkan  → menyebabkan prihatin
g)      Dasar ajektifa berklofiks { me- / -i }
 Memiliki makna gramatikal ‘merasa (dasar) pada’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( rasa batin )
Contoh : Menghormati  → merasa hormat pada
              Mencintai  → merasa cinta pada

h)      Dasar lain berkomponen makna ( + keadaan )
Contoh : Pada nomina untung dan rugi memiliki komponen makna (keadaan), sehingga keduanya sama-sama dapat diberi imbuhanbukan dan tidak. Jadi, bentuk-bentuk bukan untung, bukan rugi, tidak untung, tidak rugi, sama-sama berterima. Dengan demikian bentuk kata turunan beruntung bisa dikategorikan ajektiva. Kata turunan merugikan bisa disebut berkategori verba juga bisa termasuk kategori ajektiva.

Social Buttons

Colorful Rose